Jumat, 29 Januari 2016

Sukses dengan Pelayanan dan ?Public Relations? yang Baik

Sukses dengan Pelayanan dan ?Public Relations? yang Baik Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“Memberi lebih kepada orang lain akan membuatmu kaya dikemudian hari. Memberi kontribusi untuk orang lain, kamu akan mendapatkan balasannya.” ~ Lao Zi

Hidup dengan pelayanan dan pengabdian yang tulus sehingga kita menjadi luar biasa dan keluar sebagai pemenang! Anehnya, kita terlalu terburu-buru ingin menikmati hasil-hasil segera secara instan. Yang terkadang lupa akan keuntungan jangka panjang. Ibarat ingin memetik buah yang pohonnya baru ditanam kemarin.

Banyak diantara kita yang tidak sabar dalam menghadapi segala hal. Mulai dari menghadapi pelanggan, tantangan, atau proses menuju tujuan. Mudah emosi dan bertindak ceroboh adalah hal yang bisa menutup jalur-jalur sukses kita sebagai pemenang.

Ada sebuah kisah dari negeri China yang bisa kita jadikan pelajaran. Wang Mou, pemilik toko sutera dan satin Dong Hua yang terkenal di Hua Dong pada jaman dinasti Qing, dulu hanyalah seorang pedagang kaki lima yang berjualan sutera dan satin di pinggir jalan. Karena pelayanannya kepada para pelanggan baik, maka dagangannya sangat laris. Akibat pelayanan yang baik itu pulalah ia mendapat modal dari salah seorang pelanggan yang kaya untuk membuka toko sutera dan satin. Pelayanan yang baik dan memuaskan t
... baca selengkapnya di Sukses dengan Pelayanan dan ?Public Relations? yang Baik Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Rabu, 20 Januari 2016

Pagi Di Hari Natal

Pagi Di Hari Natal Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Seorang pastor paroki. Di akhir tahun ia merasa capai setelah melewati setahun yang keras dan sulit dengan sejuta problema. Hari ini adalah hari Natal. Walau kepalanya agak pening ia memaksa diri bangun dari tidur. Kepalanya hampa... Ketika membaca bacaan Injil di pagi Natal ini, segalanya tak membantu. Tak ada inspirasi yang meneguhkan hidup. Kisah tentang tiga raja dari Timur, tentang Maria, tentang Betlehem, tentang bayi Yesus dalam palungan, tentang para gembala dan malaekat...???

?Huh...sudah bertahun-tahun saya mendengar semuanya ini. Tak ada yang baru. Setiap tahun saya telah banyak berkotbah tentang ini. Sekarang lagi-lagi harus berbicara tentang kisah yang sama.? Dengan tenaga lesu si pastor paroki bangun dan dengan sedikit malas menyiapkan diri untuk perayaan misa Natal.

Natal...???? Huh... Si pastor paroki sekali lagi menghembuskan napas keluhannya. Apa arti sebuah Natal yang sudah diwarnai bisnis duniawi??? Di mana-mana lagu natal diputar, di jalan raya penuh terpasang iklan dengan lukisan Santa Klaus. Sudah berapa kali saya berbicara tentang makna sebuah natal? Dan...apakah saya masih harus berteriak lagi tentang makna natal pada hal tak seorang pun rela
... baca selengkapnya di Pagi Di Hari Natal Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Senin, 18 Januari 2016

Cerita Gunung

Cerita Gunung Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Seorang anak dan ayahnya sedang berjalan diatas gunung. Tiba tiba, anaknya terjatuh, Dia terluka dan berteriak : "AAAhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!." Tetapi Ia sangat kaget mendengar ada suara pantulan dari gunung sebelah."AAhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!."

Dengan penuh rasa penasaran, diapun kembali berteriak : "Siapa kamu?" Diapun menerima kembali jawaban yang sama : Siapa kamu?" dan kemudian dia berteriak ke gunung itu: "Saya mengagumimu!" dan suara itupun kembali : "Saya mengagumimu!."

Dengan muka marah pada jawaban itu, dia berteriak : "Penakut" Dia masih menerima jawaban yang sama, "Penakut!."

Dia menatap ayahnya dan bertanya : "Apa yang sedang terjadi?" Ayahnya sembari tersenyum dan berkata : "Sayang, perhatikan." Kembali ayah akan berteriak : "Kamu Juara." Diapun menerima jawaban yang sama : "Kamu Juara."

Anak ini kembali kaget dan tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi, kemudian Ayahnya menjelaskan bahwa itulah yang disebut dengan ECHO (Gema suara), tetapi itulah sesungguhnya hidup.

Segalanya akan kembali kepada kita, apa yang kita katakan, apa yang kita lakukan. Hidup kita secara sederhana adalah gambaran dari kelakuan yang kita perbuat.

Jika kamu ingin lebih banyak cinta d
... baca selengkapnya di Cerita Gunung Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Selasa, 12 Januari 2016

Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga

Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
 Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1Suling Naga

Seri : Bu Kek Siansu #13

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Penilaian, dalam bentuk apapun juga, tentu dipengaruhi suka dan tidak suka dari si penilai. Dan perasaan suka atau tidak suka ini timbul dari perhitungan rugi untung. Kalau si pe­nilai merasa dirugikan, lahir maupun batin, oleh yang dinilainya, maka perasaan tidak suka karena dirugikan ini yang akan menentukan penilaiannya, tentu saja hasil penilaian itu adalah buruk. Sebaliknya, kalau merasa diuntungkan lahir maupun batin, timbul perasaan suka dan hasil penilainnya tentu baik. Penilaian menimbulkan dua sifat atau keadaan yang berlawanan, yaitu baik atau buruk. Tentu saja baik atau buruk itu bukan sifat aseli yang dinilai, melainkan timbul karena keadaan hati si penilai sendiri.

Agaknya belum pemah ada kaisar atau orang biasa siapapun juga yang dinilai baik oleh orang seluruh dunia. Kaisar Kian Liong, seperti dapat dilihat dalam catatan sejarah, adalah seorang kaisar yang terkenal berhasil dalam memajukan kebesar
... baca selengkapnya di Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Kamis, 07 Januari 2016

Ciptakan Kehidupan Ideal dengan Kepedulian

Ciptakan Kehidupan Ideal dengan Kepedulian Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“There is a great difference between worry and concern. A worried person sees a problem, and a concerned person solves a problem. – Ada perbedaan besar antara kekhawatiran dan kepedulian. Seorang orang khawatir hanya melihat masalah, dan orang yang peduli menyelesaikan masalah.” Harold Stephens

Penyakit karena gunungan sampah, peningkatan angka kriminalitas, daratan hilang tergerus air laut karena perubahan iklim, kemiskinan dan masalah-masalah serius lainnya menjadi isu yang mengancam kehidupan akhir-akhir ini. Jika terus dibiarkan, maka tak lama lagi bumi ini tidak akan mampu mendukung kehidupan kita. Saat ini dibutuhkan segera upaya merevolusi kehidupan agar kembali ideal, nyaman, seimbang, dan menyenangkan, dan jauh dari masalah-masalah yang sekarang menghantui kehidupan kita.

Tetapi akan butuh proses dan waktu jika kita mengandalkan orang lain, pemerintahan atau negara-negara maju melakukan sesuatu mengatasi masalah-masalah tersebut. Untuk menyelenggarakan konferensi saja butuh proses, waktu dan birokrasi yang panjang serta biaya besar, padahal dibutuhkan tindakan cepat agar masalah tidak semakin menumpuk dan lebih sulit teratasi. Kepedulian kita semua merupakan alternatif terbaik untuk mengatasi ma
... baca selengkapnya di Ciptakan Kehidupan Ideal dengan Kepedulian Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Minggu, 08 Mei 2011

4. Tafsir QS An Najm 36 – 39


Tanya :
Bagaimanakah penafsiran ulama’ yang ahli tentang QS An Najm 39 ?
Jawab :
QS An Najm 36 39 selengkapnya adalah :
أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ  وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ  أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ  وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Artinya : “Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa?, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
Berikut ini beberapa penafsiran para ulama’ ahli tafsir mengenai ayat di atas.
1.    Syaikh Sulaiman bin Umar Al Ajili menjelaskan : Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata bahwa hukum ayat tersebut telah dimansukh atau diganti dalam syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hukumnya hanya berlaku dalam syariat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam  dan Nabi Musa ‘alaihis salam, kemudian untuk ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kandungan QS An Najm 39 tersebut dimansukh dengan firman Allah :
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Artinya : “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka , dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
Ayat ini menyatakan bahwa seorang anak dapat masuk ke dalam syurga berkat amal baik ayahnya. Ikrimah mengatakan bahwa tidak sampainya pahala (yang dihadiahkan) hanya berlaku bagi syariat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam  dan Nabi Musa ‘alaihis salam. Sedangkan untuk untuk ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka dapat menerima pahala amal kebaikannya sendiri atau amal kebaikan orang lain.” (Al Futuhat Al Ilahiyah, hal 236).
Pendapat yang sama juga dapat dilihat dalam Tafsir Khazin Juz IV, hal 233 dan lainnya.
2.       Menurut Mufti Mesir Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf, beliau mengatakan : Firman Allah : وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ perlu diberi batasan yaitu jika orang yang melakukan perbuatan baik itu tidak menghadiahkan pahalanya kepada orang lain. Maksud ayat tersebut adalah, bahwa amal seseorang tidak akan bermanfaat di akhirat kecuali pekerjaan yang telah dilakukan di dunia, bila tidak ada orang lain yang menghadihkan amalnya kepada si mayit. Apabila ada orang yang mengirimkan pahala ibadah kepadanya, maka pahala itu akan sampai kepada orang telah meninggal dunia tersebut. (Hukm al Syari’ah Al Islamiyah fi Ma’tam Al Arba’in, 23-24)
3.       Menurut Syaikh Muhammad Al Arabi :

Sabtu, 07 Mei 2011

3. Hadiah Pahala


Tanya :
Apakah pahala bacaan Al Qur’an dan tahlil yang dihadihkan kepada orang yang telah meninggal dunia bisa sampai kepadanya?
Jawab :
Seorang mukmin seharusnya tidah usah ragu terhadap kasih sayang dan kekuasaan Allah. Kalau hanya untuk menyampaikan pahala kepada orang yang telah meninggal dunia, tentu saja hal itu sangat mudah bagi Allah. Dan perlu diingat, bahwa Ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan diantara sesama ummat Islam) tidak akan terputus karena kematian. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah member contoh kepada ummatnya untuk memberi hadiah pahala kepada orang yang telah meninggla dunia, sebagaimana hadits اِقْرَؤُوايس على موتاكم serta hadits yang lain. Anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut menunjukkan bahwa mayyit dapat merasakan manfaat bacaan Al Qur’an atau dzikir yang dihadihkan kepadanya.

Tanya :
Kalau memang ada hadits yang menjelaskan sampainya hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia, apakah tidak bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut :
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Artinya : “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
Jawab :
Persoalan itu sebenarnya telah dijawab dengan tuntas oleh Al Imam Syamsuddin Abi Abdillah Ibnul qayyim Al Jauziyyah lebih dari 600 tahun yang lalu. Beliau berkata, “Pendapat yang mengatakan bahwa hadits mengenai sampainya hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia itu bertentangan dengan firman Allah QS An Najm : 39 yaitu bahwa seorang manusia itu tiada memperoleh selain apa yang ia telah disusahakannya, adalah cerminan sikap yang kurang sopan di dalam ungkapannya dan salah besar dalam mengartikannya. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjaga agar tidak terjadi kontradiksi antara hadits dengan Al Qur’an., bahkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan penguat dan penjelas ayat-ayat Al Qur’an. Kalau ada pendapat yang menyatakan bahwa hadits tersebut bertolak belakang dengan Al Qur’an, maka ia berasal dari buruknya pemahaman.Dan hal adalah cara yang kurang baik dengan menolak hadits yang sudah jelas dengan dhzhir ayat Al Qur’an yang disalahpahami.” (Ar Ruh hal 13)
Pendapat Ibnul Qayyim di atas selaras dengan sebuah sya’ir :
  فَكَمْ مِنْ عَائِبِ قَوْلاً صَحِيْحًا   
وَآفَتُهُ مِنَ الْفَهْمِ السَّقِيْمِ
Betapa banyak orang yang menyalahkan pendapat yang benar
Bukan karena pendapat itu salah 
namun lebih karena pemahaman yang tidak benar

Tanya :
Jadi, siapakah sesungguhnya yang berpendapat bahwa hadiah pahala tidak sampai kepada orang yang telah meninggal dunia ?
Jawab :
Yang berpendapat bahwa hadiah pahala itu tidk sampai kepada orang yang telah meninggal dunia adalah ahli bid’ah dan kaum Mu’tazilah, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim :
وَذَهَبَ أَهْلُ الْبِدَعِ مِنْ أَهْلِ الْكَلَامِ أَنَّهُ لاَيَصِلُ إِلَى الْمَيِّتِ شَيْءٌاَلْبَتَّةَ لاَدُعَاءٌ وَلاَغَيْرُهُ
Artinya : “Para ahli bid’ah dari kalangan Ahli Kalam berpendapat bahwa menghadiahkan pahala baik berupa do’a atau lainnya sama sekali tidak sampai kepada orang yang telah meninggal dunia” (Ar Ruh, 137)
Dan pernyataan dari Imam Syaukani :
وَقَدِ اخْتَلَفَ فِيْ غَيْرِ الصَّدَقَةِ مِنْ أَعْمَلِ الْبِرِّ هَلْ يَصِلُ إِلَى الْمَيِّتِ ؟فَذَهَبَتِ الْمُعْتَزِلَةُ إِلَى أَنَّهُ لاَيَصِلُ إِلَيْهِ شَيْءٌ
Artinya : “Terjadi perbedaan pendapat mengenai persoalan sampai tidaknya pahala selain sedekah kepada orang yang telah meninggal dunia. Golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa pahala selain sedekah tidak sampai (kepada orang yang telah meninggal dunia).”(Nail Al Authar, juz IV, hal 142)

Tanya :
Jadi bagaimana sesungguhnya yang benar dari QS An Najm ayat 39 tersebut ?
Jawab :
Masalah ini sebaiknya diserahkan kepada para Mufassir yang ahli dalam bidangnya, sehingga kita terhindar dari kesalahpahaman, sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَوُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِأَهْلِهِ فَانْتَظِرِالسَّاعَةَ
Artinya : “Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya. ” (HR Bukhari, 57)
Dalam hadits lain diriwayatkan :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ أَوْ بِمَالَمْ يُعْلَمْ فَلْيَتَبَوَّأْمَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Artinya : “Dari Ibn Abbas adhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja yang menafsirkan Al Qur’an dengan pendapatnya sendiri (ra’yu) atau dengan sesuatu yang tidak diketahuinya, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka. ” (HR At Tirmidzi, 2875)